History
Pada pertengahan bulan juli tahun 2002, seorang anak dengan gembiranya membawa sebuah kertas yang menyatakan bahwa anak tersebut dinyatakan LULUS dari sebuah MTs. Kemudian dengan bangga sang anak memberikan surat itu ke orang tuanya. “Bu, aku lulus NEM aku tertinggi Lho”, katanya dengan nada gembira. si ibu hanya bisa tersenyum meskipun dengan sangat terpaksa. kemudian dengan nada polos nak itu bilang pada ibunya “aku mau ngelanjutin ke SMK ya bu”.
tak lama kemudian si ibu menjawab “kamu mau lanjutin kemana? siapa yang mau biayain, biaya pendidikan sekarang mahal, kamu mending gak usah lanjutin sekolah ya?”. Anak tersebut lahir dari keluarga yang kurang beuntung, ayahnya bekerja sebagai buruh tani, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga. selama ini penghasilan sebagai buruh tani hanya cukup untuk makan sehari-hari. Paradigma umum orang desa “yang penting ada buat makan besok” itu sudah cukup. karena orang desa tidak terlalu berambisi terhadap sesuatu dan selalu tampil dengan apa adanya, beda dengan orang yang tinggal di kota yang setiap hari di cekoki budaya hidup ‘Hedonis’ yang seakan-akan kebutuhan hidup sehari-hari terasa kurang, walaupun real-nya sudah lebih dari cukup.
Aura kesedihan yang begitu mendalam tampak di wajah anak itu, air matanya tak kuasa ia tahan dan akhirnya jatuh membasahi tanah. kemudian dengan langkah gontai anak itu pergi keluar dari rumahnya menuju sebuah pondok pesantren deket rumahnya, pondok pesantren DarusSalam, namanya. anakitu duduk santai di bawah pohon asem di kawasan pondok sambil memikirkan nasibnya yang harus putus sekolah karena alasan klasik mayoritas warga indonesia. dia terus berpikir gimana caranya untuk bisa melanjutkan sekolahnya, kemudian dia mendapatkan ide “ehm…bagaimana klo aku minta bantuan paman” katanya sambil tersenyum. wajahnya yang pertama kusut dan sedih, kini sudah tampak ceria lagi.
Tanpa membuang-buang waktu, ia pun pergi ke salah satu pamannya yang bisa di bilang keadaan ekonomi di atas rata-rata. dengan nada polos dia mengatakan maksud dan tujuannya, ternyata tak seperti yang di harapkan. paman anak tersebut menolak untuk membantu membiayai sekolahnya, malah dengan nada yang agak kasar pamannya bilang “enak saja, kamu bukan anakku, kamu minta saja sama bapak kamu”. kesedihan kembali menampar wajah anak itu, matanya berkaca-kaca, tampak kesedihan menaungi anak itu. biasanya kalau di desa, sudah punya harta sedikit saja gayanya udah kaya ‘Warren Buffett’ orang terkaya di dunia yang menggantikan dominasi Bill Gates selama 13 tahun. sudah lupa segalanya, bahkan saudara saja gak di anggap di karenakan faktor kurang beruntung. anak itu pun pergi meninggalkan rumah pamannya, walaupun dengan nada kecewa dia coba untuk bangkit.
Pada suatu hari ketika pendaftaran di semua sekolah akan di tutup, anak itu masih bingung karena dia tidak punya uang untuk beli formulir pendaftaran. kondisi ini tidak membuat dia down atau menyerah, dia terus berusaha untuk bisa mendapatkan uang agar dapat membeli formulir pendaftaran. mulai dari pinjem ke temen2nya di pondok, sampai minta bantuan ke sanak famili nya. namun, semuanya nihil tanpa hasil yang ada hanyalah keringat membasahi kaos hitam lusuh yang di pakainya. pada waktu itu harga formulir di semua sekolah rata-rata Rp. 10.000,-
anak itu berjalan pulang dengan penuh rasa kecewa, dengan suasana hati yang menyakitkan. dia kembali bertanya pada dirinya “apakah aku harus putus sekolah?”. pertanyaan itu bersarang di otak anak itu dan tersimpan kuat di memory-nya. sesampai dirumah, dia mendapati rumahnya sepi tak berpenghuni, ayah-ibunya pergi kesawah. di pikirannya masih melekat, kalau dia ingin melanjutkan sekolah, tapi sesekali runtuh akibat terhalang karena dia tidak punya uang 10ribu untuk membeli formulir pendaftaran.
beberapa saat kemudian anak itu terperanjat, menatap sebuah harapan. dia teringat kalau dia punya seekor ayam yang bisa dijual untuk membeli formulir pendaftaran. kebetulan pada waktu itu hari jum’at tepat lagi rame2nya pasar. jam menunjukkan pukul 10.30, dengan langkah cepat anak itu pergi kebelakang mencari ayamnya. setelah berusaha dengan sekuat tenaga dan menghabiskan durasi sekitar 30 menit, akhirnya ayam tersebut berhasil di tangkap. dengan wajah gembira ayam itu di bawa kepasar untuk di jual, meskipun dia sepertinya gak rela, karena ayam tersebut satu-satunya harga pemberian neneknya dan yang lebih memberatkan dia, ayamnya kalo nelur sampai 33 butir.
sesampai di pasar, dia langsung menyodorkan ayamnya ke pedagang ayam, dan akhirnya laku Rp.15.000. anak tersebut pulang dengan wajah gembira, sampai di rumah waktu sudah menunjukkan jam 11.16, dia langsung bergegas kekamar mandi untuk cuci muka (gak mandi) dan langsung berangkat ke sekolah untuk mendaftarkan diri. setelah mengisi formulir dan menyerahkannya kembali ke petugas di sekolah, anak itu pun kembali kerumah dengan perasaan senang. “setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan, akhirnya aku dapat daftar juga”, katanya dengan nada senang. dari dana 15.000 (hasil penjualan ayam) dia mendapati ada sisa 3.000. dengan rincian transport angkot Rp.1.500 (pulang-pergi), beli es diterminal Rp.500, pembelian formulir Rp.10.000.(to be continue)
apakah anda tahu siapa anak itu..?? Dia adalah aku. Perjuangan yang keras dan ikhlas akan mendapatkan hasil yang memuaskan, jangan pernah menyerah lihatlah ke depan–disitu ada harapan. salan perjuangan.
Um2..hidup penuh dengan perjuangan
yuppzz..tRimss commentnya, be posive be happy