Merdeka,…??????
Minggu pagi tanggal 10 Agustus 2008, tepatnya H-7 HUT kemerdekaan R.I, aku bangun sekitar jam 5.30. suasana di komplek perumahan taman pondok jati masih sepi, saya membuka pintu rumah, seketika itu pula udara dingin menampar wajahku dan seluruh tubuhku, aku langsung beranjak mengambil jaket di kamar belakang dan mengenakannya. kemudian, saya keluar untuk jalan-jalan di areal komplek menghirup segarnya udara pagi hari. Setelah terasa cukup lama, saya memutuskan kembali, dan waktu itu suasana di komplek perumahan tak lagi sepi. Lalu lalang kendaraan, warga komplek yang sedang lari pagi, dan warga yang bergotong royong membersihkan area komplek perumahan, menjadi pemandangan di pagi itu. waktu sudah menunjukkan jam 06.35, aku teringat kalau pagi ini aku harus mengantarkan kunci ke kost teman aku. aku langsung mengeluarkan motor dan membawanya ke arah taman aloha, kebetulan teman aku ngekost-nya di daerah itu.
Setelah mengantarkan kunci, aku membeli nasi pecel dua bungkus untuk sarapan sama teman aku. habis sarapan aku langsung mengambil posisi duduk di depan komputer untuk ngedit data. sekitar jam 08.32 aku memasang bendera merah putih di depan rumah untuk memeriahkan HUT kemerdekaan R.I. aku melihat semua warga juga sibuk memasang bendera, sang merah putih berkibar melambai-lambai dan menari di terpa angin. pada saat itu juga aku melihat seorang pemulung (orang kurang beruntung) yang sedang memburu tempat sampah untuk mencari sesuap nasi “bukan berarti nyari nasi di tempat sampah”, dia mencari botol bekas, gelas bekas, kardus dan lain sebagainya. aku terdiam sejenak memperhatikan langkah dan kegigihan “orang yang kurang beruntung” itu menjalani hidup.
Sambil memperhatikan langkahnya aku melihat sang merah putih berkibar di puncak tiang, saat itu pula aku terdiam membisu seribu bahasa. Dalam hati aku hanya bisa berkata “APAKAH BANGSA INDONESIA SUDAH MERDEKA??” kalau memang iya, kenapa orang yang kurang beruntung seperti dia melimpah ruah di Bangsa ini? setiap hari mereka harus berjuang menjalani kerasny kehidupan, masih adakah harapan bagi orang kurang beruntung itu mendapatkan kehidupan yang layak?!
Pertanyaan itu muncul begitu saja tanpa aku sadari, tanpa terasa di dekat aku ada rozaq yang sedang memberikan gelas aqua bekas. orangnya setengah baya, pakaiannya lusuh, memakai topi warna hitam, dan membawa karung warna putih.
Rozaq adalah teman aku yang tinggal satu rumah denganku, orang kurang beruntung itu sepertinya sangat senang sekali menerima gelas bekas dari rozaq. kemudian, aku tersentak dari lamunanku, tanpa pikir panjang aku mengambil gelas aqua bekas yang ada di kamar belakang untuk aku berikan sama “orang yang kurang beruntung” itu. sesekali aku melihat ada senyum di bibirnya sambil memasukkan gelas bekas itu satu persatu, “terima kasih mas, terima kasih mas”, katanya. bibirnya tak henti-henti mengucapkan terima kasih.
Pada saat yang bersamaan datang petugas keamanan komplek perumahan, dia langsung menegur orang kurang beruntung itu “Pak, gak boleh masuk ke area perumahan ini” katanya dengan suara agak tinggi. aku memperhatikan pak satpam sampai mata kami bertemu di satu titik, aku hanya bisa terdiam, tak bersuara. orang kurang beruntung itu menjawab “maaf pak saya tidak tahu” katanya dengan nada memelas. pak satpam itu menjawab “pak, baru pertama kali masuk kesini???”. orang kurang beruntung tadi menjawab “iya pak, baru pertama kali, maaf pak, maaf pak saya tidak tahuu”…ya udah pak, sekarang sampeyan ambil dulu gelasnya, habis itu sampeyan keluar dari area komplek..kata pak satpam, agak kasar. orang kurang beruntung itu mempercepat tangannya memasukkan gelas aqua bekas tadi. aku dan rozaq tidak berkomentar sedikit pun, kami berdiri mematung di dekat pak “pemulung” itu.
Aku melihat lagi ke arah Sang Saka Merah Putih yang berkibar diterpa angin dan menjadi saksi bisu kerasnya kehidupan. aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri, apakah apa yang dilakukan pak satpam itu termasuk amanah tugas atau sudah tidak adakah rasa sosial di jiwanya?.. dimanakan letak rasa persaudaraannya? aku, rozaq, pak satpam, dan orang yang kurang beruntung itu, dan semua warga negara Indonesia berada di bawah naungan satu bendera. tapi, apakah mereka sadar akan hal itu?? hingga rasa solidaritas, kebersamaan pun punah. di komplek perumahan aku tinggal ada sebuah papan yang bertuliskan “PEMULUNG, SALES, PENGAMEN, MINTA SUMBANGAN, Di larang masuk” ‘ya inilah kehidupan’ yang susah sekali di tentukan alurnya. (ra18+)